Senin, 01 Desember 2008

Suka Marah

Siang itu Abo berteriak-teriak, menarik-narik meja, memukul-mukul meja sehingga suasana kelas gaduh sekali. tidak puas dengan perilakunya dia juga naik ke atas meja. Setelah di telusuri ternyata dia kesulitan dalam mengerjakan tugas. pernah dia berbuat sepeti itu pada saat kalah lomba lari dengan temannya. Juga pada saat Indra mencolek punggungnya dia langsung ngamuk-ngamuk.
Dari kasus di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa suka marah adalah pengendalian emosi yang tidak terkontrol dalam diri anak.

Sebab – sebab :
· Tersingung.
· TemperamentalSolusi
· Menejemen emosi (wudhu, istighfar, tarik nafas, mengubah posisi, dan relaksasi).
· Pendekatan indivudu dan pemberian layanan konseling.
· Pelatihan problem solving.
· Memberikan tindakan preventif (disapa, ditanya, diperhatikan, dipuji, atau diberi surprise)

· Beban masalah dan tidak bisa mengatasi masalahnya.

Kleptomania

Ahmad mempunyai pensil baru, belum genap dua hari pensil tersebut sudah hilang, begitu juga dengan penghapusnya RijPagi itu Anto melapor ke Ustadzah, dia berbisik: Ustdzah, pulpen yang dibawa Ari itu sepertinya milikku. Beberapa waktu kemudian Ustadzah mendekati Ari dan mengajaknya berbincang-bincang.
Ari, pulpen yang kamu pegang itu punya siapa? Tidak tahu ustadzah, kemarin sudah ada disini.
Coba lihat tempat pensil kamu? kata ustadzah. Setelah dibuka, di dalamnya terdapat berbagai macam barang, yang ternyata barang-barang tersebut bukan milik Ari.
Kleptomania adalah perilaku mengambil barang milik orang lain. dimana pelaku tidak menyadari sepenuhnya perbuatannya. Biasanya barang yang diambil tidak dipergunakan dan bukan merupakan suatu kebutuhan.

Sebab – sebab :
· Kurangnya kontrol diri.
· Iseng.
· Lingkungan sosial budaya.
· Gaya hidup dan pergaulan.
· Kebiasaanal, pulpennya Anto, barang-barang itu raib tak berbekas
Solusi
· Konsultasikan dengan pakar atau psikolog.
· Pemberian terapi khusus dan pendekatan personal / humanistik behaviour.Perlu arahan perilaku perbanyak tugas positif yang cenderung ke arah hobi

Daya Serap Rendah.

Andi (nama samaran), setiap hari mengikuti pelajaran Tartili baik klasikal atau individual. Dalam pembelajaran individual jika dia menguasai satu materi maka akan naik ke materi selanjutnya.
Lain lagi dengan Sofyan (nama samaran), dia selalu mengulang materi yang sama karena sering lupa, walaupun materi tersebut diulang-ulang terus. Kalau sudah bisapun apabila ditambah materi baru, materi yang sudah diberikan sering lupa sehingga harus sering-sering diulang kembali.
Dari gambaran di atas dapat kita ketahui bahwa daya serap rendah adalah terbatasnya kemamppuan dalam menangkap, menyimpan dan memahami materi yang disampaikan oleh pengajar, sehingga materi yang diterima tidak dapat tersimpan lama

Sebab – sebab :
· Kurang optimal dalam penggunaan fungsi otak.· Terdapat gangguan fungsi dan sistem otak.
· IQ atau kapasitas anak kurang memadai.
· Gangguan indrawi (kurangnya fungsi pendengar-an, penglihatan, pembau, perasa, dan peraba ).
· Hilangnya informasi yang diserap/ lupa.
· Kadang sengaja dibuat lupa.
· Adanya faktor genetik atau keturunan.

Solusi
· Sering diajak bicara atau diskusi.
· Adanya tes tentang daya ingat sehingga kerja sistem otak optimal
· Diadakan remedial teaching ketika KBM
· Senam otak (brain gym)

Media Mania ( Imitasi )

Saat pelajaran berlangsung tiba-tiba di kelompok III ada anak menangis, pembelajaran-pun terhenti. Ustadz langsung bertanya kepada anak yang menangis. Katanya dia dipukul, kebetulan yang memukul adalah Ani. Oleh Ustadz keduanya ditanya : “ Kenapa ? ada apa?
Jawab mereka :
Iwan : Aku dipukul !
Ani : Iwan sih, dibilangin nggak ndengerin, ya …. kupukul aja!
Ani menjawab tanpa merasa bersalah
Hari berikutnya Ani memukul temannya lagi, katanya dia meniru power ranger (film). Dan bila ditanya selalu menjawab dengan perkataan: Aku ingin seperti power rangger.Dari kasus di atas bisa diambil pengertian bahwa imitasi adalah peniruan perilaku oleh anak
pada media yang dilihatnya dan diaplikasikan dalam lingkungan sosialnya (teman-temannya)

Sebab – sebab :
· Lingkungan sosial budaya dan gaya hidup yang kurang baik.
· Kurangnya bimbingan dan arahan dari orang tua.
· Media mania.
· Pengaruh teman sebaya.
· Belum mempunyai konsep diri.
· Iseng.
· Kebiasaan.
Solusi
· Pemilihan lingkungan dan gaya hidup yang tepat.
· Batasan penggunaan fasilitas dari orang tua.
· Adanya time schedule daily activity- pengaturan waktu dalam kegiatan harian.
· Pemilihan media informasi yang sesuai.
· Pemilihan teman sebaya dan pergaulan yang positif.
· Pembentukan dan penanaman konsep diri.
· Komunikasi lebih banyak ke arah diskusi.
· Adanya arahan dan bimbingan dari orang – orang sekitarnya.

Kamis, 27 November 2008

Kekerasan /agresif

Pagi ini sudah ada tiga anak yang menangis karena perbuatan satu anak yang memang sudah terkenal sebagai “trouble maker” di kelas tersebut. Beberapa guru juga mengeluhkan karena sikap si anak yang tidak pernah patuh dan selalu membuat ribut ketika pelajaran. Anak “trouble maker” tersebut memang sering berulah sehingga temannya terluka seperti memukul, menggigit dan menendang.

Pengertian :
Kekerasan atau agresifitas sering dilakukan oleh anak-anak yang mempunyai sifat temperamental yang belum bisa mengontrol kestabilan emosinya. Biasanya dilampiaskan dengan memukul, menjambak, menendang atau menggigit serta masih banyak perilaku lainnya yang sifatnya menyakiti orang lain.

Sebab – sebab :
1. Lingkungan sosial budaya dan keluarga yang penuh dengan kekerasan.
2. Broken home
3. Merasa “ lebih” dari temannya.
4। Pola asuh atau model orang tua.
1. Aktualisasi diri yang salah.
2. Mengalami gangguan emosi dan perilaku.
3. Modeling (meniru perilaku orang yg lebih tua di lingkungannya).
4. Pengaruh media ( TV, film ).
5. Iseng/ coba – coba.
6. Bentuk kompensasi dari kurangan diri.
Solusi
· Pemilihan lingkungan yang tepat
· Perbaiki kualitas hubungan / komunikasi keluarga.
· Pemberian contoh atau model figur yang baik terutama orang tua.
· Tinjau kembali penanaman pola asuh yang sudah diterapkan.
· Ikutkan anak dalam ekstrakurikuler / kursus yang mampu menyalurkan bakat dan minatnya.
· Bimbingan atau nasehat yang berhubungan dengan emosi.
· Selektif dalam menggunakan media.Bangun dan bentuk karakteristik pada अनक
· Pemberian reward dan punishment atas perilakunya.
· Ajak diskusi tentang dampak positif dan negatif dari perilakunya.
· Konsultasi dengan pakar : dokter, psikolog, psikiater atau dengan terapi khusus.

Rabu, 26 November 2008

Pornografi/ Pornoaksi

“Bu guru – bu guru si Fulan membawa gambar tidak sopan“ teriak beberapa anak dari bangku belakang. Akhirnya suasana kelas menjadi rebut ketika sedang jam pelajaran, dengan sangat bijaksana bu guru menenangkan kondisi kelas kemudian memberikan tugas. Kemudian barulah menghampiri si Fulan untuk menyelesaikan permasalahan tadi.


Pengertian :
Pornografi ataupun pornoaksi bisa terjadi pada semua orang baik itu orang dewasa ataupun anak-anak. Pengungkapannyapun berbeda-beda bisa dengan mengoleksi gambar-gambar porno, sering mengumpat dengan kata-kata porno, mencoba-coba dan melihat film porno.
Sebab – sebab :
1. Lingkungan rumah yang kurang kondusif/broken home
2. Pola asuh orang tua.
3. Kondisi sosial ekonomi orang tua yang kurang baik.
4. Kurangnya seleksi dalam pemilihan media oleh lingkungan.
5. Bentuk kompensasi untuk mencari perhatian orang di sekitarnya.
6. Kurangnya informasi / wawasan tentang peran diri, pendidikan seks dini.
7. Rasa ingin tahu tinggi dan coba – coba.
8. Mengoleksi barang – barang atau gambar porno.
9. Kurangnya kedisiplinan pembuatan kegiatan positif dalam daily activity.
10. Kesulitan sosialisasi/aktualisasi diri.
11. Iseng pengaruh teman sebaya.
12. Mengalami/memderita kelainan sex (fisik atau psikis )Gaya hidup hedonis
Solusi
· Perbaiki kualitas hubungan / komunikasi keluarga
· Adanya pendampingan, pengawasan orang tua ketika anak menonton TV, Film, baca majalah, dan lainnya.
· Memberi banyak kegiatan positif.
· Sexual education dini.
· Pemberian terapi dan konsultasi dengan ahli.
· Pemantauan dan pemilihan teman sebaya yang tepat.
· Pemilihan kualitas lingkungan hidup dan perbaikan gaya hidup yang sehat.
· Merubah bentuk pola asuh orang tua yang kurang tepat.
· Beri perhatian positif.
· Memantau tempat aktivitas anak.
· Memberikan bimbingan spiritual / konsep keagamaan.
· Sering diikutkan dalam pelatihan seminar dan lomba.
· Dibuatkan Daily activity.
· Memberikan dampak posityif dan negatif pornografi.
· Adanya reward dan punishment.

melamun

Melamun
“Dor! Melamun lagi ya?” Terapi kejut yang dilakukan bu guru kepada si Fulan. Kebiasaan ini sering dilakukan oleh si Fulan baik itu ketika di jam pelajaran ataupun ketika waktu istirahat.
Ketika bu guru mengkomunikasikan hal ini kepada orang tua si Fulan, maka hal yang sama ternyata dilakuakan juga di rumah. “Ananda sekarang lebih sering melamun daripada melakukan aktifitas”. Begitulah kurang lebih informasi yang disampaikan oleh orang tua.

Pengertian :Jika anak-anak sering terlihat diam tanpa aktifitas /kegiatan, dan pandangan matanya kosong serta asyik dengan alam fikirannya sendiri maka segeralah kita menegurnya, karena kegiatan melamun dapat merusak fikiran anak.

Sebab – sebab melamun adalah :
1. Keluarga broken home.
2. Daya imajinasi tinggi.
3. Sulit bersosialisasi dengan teman sebaya.
4. Sulit untuk mengaktualisasikan diri/ bingung mau berbuat apa.
5. Tidak adanya schedule yang baik dalam daily aktivitynya.
6. Malas atau tidak semangat untuk bergerak, hanya sebagai tipe pengamat atau pendengar.
7. Lingkungan dan gaya hidup yang kurang sehat.
8. Kebiasaan.

Solusi
· Meningkatkan kualitas komunikasi dalam kesehariannya, sering diajak ngobrol atau curah hati.

· Beri kegiatan positif dan penuh tantangan.
· Membuat daftar daily activity disertai tujuan.
· Adanya pemberian tes bakat dan minat.
· Memberi penjelasan dampak dari melamun.
· Memperbaiki kualitas pemilihan lingkungan dan gaya hidup.
· Berikan pelatihan tentang motivasi.