Kamis, 27 November 2008

Kekerasan /agresif

Pagi ini sudah ada tiga anak yang menangis karena perbuatan satu anak yang memang sudah terkenal sebagai “trouble maker” di kelas tersebut. Beberapa guru juga mengeluhkan karena sikap si anak yang tidak pernah patuh dan selalu membuat ribut ketika pelajaran. Anak “trouble maker” tersebut memang sering berulah sehingga temannya terluka seperti memukul, menggigit dan menendang.

Pengertian :
Kekerasan atau agresifitas sering dilakukan oleh anak-anak yang mempunyai sifat temperamental yang belum bisa mengontrol kestabilan emosinya. Biasanya dilampiaskan dengan memukul, menjambak, menendang atau menggigit serta masih banyak perilaku lainnya yang sifatnya menyakiti orang lain.

Sebab – sebab :
1. Lingkungan sosial budaya dan keluarga yang penuh dengan kekerasan.
2. Broken home
3. Merasa “ lebih” dari temannya.
4। Pola asuh atau model orang tua.
1. Aktualisasi diri yang salah.
2. Mengalami gangguan emosi dan perilaku.
3. Modeling (meniru perilaku orang yg lebih tua di lingkungannya).
4. Pengaruh media ( TV, film ).
5. Iseng/ coba – coba.
6. Bentuk kompensasi dari kurangan diri.
Solusi
· Pemilihan lingkungan yang tepat
· Perbaiki kualitas hubungan / komunikasi keluarga.
· Pemberian contoh atau model figur yang baik terutama orang tua.
· Tinjau kembali penanaman pola asuh yang sudah diterapkan.
· Ikutkan anak dalam ekstrakurikuler / kursus yang mampu menyalurkan bakat dan minatnya.
· Bimbingan atau nasehat yang berhubungan dengan emosi.
· Selektif dalam menggunakan media.Bangun dan bentuk karakteristik pada अनक
· Pemberian reward dan punishment atas perilakunya.
· Ajak diskusi tentang dampak positif dan negatif dari perilakunya.
· Konsultasi dengan pakar : dokter, psikolog, psikiater atau dengan terapi khusus.

Rabu, 26 November 2008

Pornografi/ Pornoaksi

“Bu guru – bu guru si Fulan membawa gambar tidak sopan“ teriak beberapa anak dari bangku belakang. Akhirnya suasana kelas menjadi rebut ketika sedang jam pelajaran, dengan sangat bijaksana bu guru menenangkan kondisi kelas kemudian memberikan tugas. Kemudian barulah menghampiri si Fulan untuk menyelesaikan permasalahan tadi.


Pengertian :
Pornografi ataupun pornoaksi bisa terjadi pada semua orang baik itu orang dewasa ataupun anak-anak. Pengungkapannyapun berbeda-beda bisa dengan mengoleksi gambar-gambar porno, sering mengumpat dengan kata-kata porno, mencoba-coba dan melihat film porno.
Sebab – sebab :
1. Lingkungan rumah yang kurang kondusif/broken home
2. Pola asuh orang tua.
3. Kondisi sosial ekonomi orang tua yang kurang baik.
4. Kurangnya seleksi dalam pemilihan media oleh lingkungan.
5. Bentuk kompensasi untuk mencari perhatian orang di sekitarnya.
6. Kurangnya informasi / wawasan tentang peran diri, pendidikan seks dini.
7. Rasa ingin tahu tinggi dan coba – coba.
8. Mengoleksi barang – barang atau gambar porno.
9. Kurangnya kedisiplinan pembuatan kegiatan positif dalam daily activity.
10. Kesulitan sosialisasi/aktualisasi diri.
11. Iseng pengaruh teman sebaya.
12. Mengalami/memderita kelainan sex (fisik atau psikis )Gaya hidup hedonis
Solusi
· Perbaiki kualitas hubungan / komunikasi keluarga
· Adanya pendampingan, pengawasan orang tua ketika anak menonton TV, Film, baca majalah, dan lainnya.
· Memberi banyak kegiatan positif.
· Sexual education dini.
· Pemberian terapi dan konsultasi dengan ahli.
· Pemantauan dan pemilihan teman sebaya yang tepat.
· Pemilihan kualitas lingkungan hidup dan perbaikan gaya hidup yang sehat.
· Merubah bentuk pola asuh orang tua yang kurang tepat.
· Beri perhatian positif.
· Memantau tempat aktivitas anak.
· Memberikan bimbingan spiritual / konsep keagamaan.
· Sering diikutkan dalam pelatihan seminar dan lomba.
· Dibuatkan Daily activity.
· Memberikan dampak posityif dan negatif pornografi.
· Adanya reward dan punishment.

melamun

Melamun
“Dor! Melamun lagi ya?” Terapi kejut yang dilakukan bu guru kepada si Fulan. Kebiasaan ini sering dilakukan oleh si Fulan baik itu ketika di jam pelajaran ataupun ketika waktu istirahat.
Ketika bu guru mengkomunikasikan hal ini kepada orang tua si Fulan, maka hal yang sama ternyata dilakuakan juga di rumah. “Ananda sekarang lebih sering melamun daripada melakukan aktifitas”. Begitulah kurang lebih informasi yang disampaikan oleh orang tua.

Pengertian :Jika anak-anak sering terlihat diam tanpa aktifitas /kegiatan, dan pandangan matanya kosong serta asyik dengan alam fikirannya sendiri maka segeralah kita menegurnya, karena kegiatan melamun dapat merusak fikiran anak.

Sebab – sebab melamun adalah :
1. Keluarga broken home.
2. Daya imajinasi tinggi.
3. Sulit bersosialisasi dengan teman sebaya.
4. Sulit untuk mengaktualisasikan diri/ bingung mau berbuat apa.
5. Tidak adanya schedule yang baik dalam daily aktivitynya.
6. Malas atau tidak semangat untuk bergerak, hanya sebagai tipe pengamat atau pendengar.
7. Lingkungan dan gaya hidup yang kurang sehat.
8. Kebiasaan.

Solusi
· Meningkatkan kualitas komunikasi dalam kesehariannya, sering diajak ngobrol atau curah hati.

· Beri kegiatan positif dan penuh tantangan.
· Membuat daftar daily activity disertai tujuan.
· Adanya pemberian tes bakat dan minat.
· Memberi penjelasan dampak dari melamun.
· Memperbaiki kualitas pemilihan lingkungan dan gaya hidup.
· Berikan pelatihan tentang motivasi.

malas belajar

1. Malas Belajar
Di tengah hiruk pikuk kegiatan siswa dikelas dua, ada satu anak yang dari tadi hanya diam tanpa aktifitas, kepala di letakkan di atas meja, terlihat menguap berkali-kali, yang lebih menyedihkan lagi buku si anak masih bersih tanpa coretan apapun di dalamnya.
“Fulan tolong buku paketnya dibuka dan dikerjakan, OK!” Perintah dari gurunya. Sudah berkali-kali bu guru menghampiri si anak dan memberikan instruksi tetapi sampai bel pulang tak satupun pekerjaan yang dia selesaikan.

Pengertian : Anak-anak memang mempunyai gaya belajar yang berbeda-beda, tetapi kita harus bisa membedakan mana anak yang gaya belajarnya tidak sesuai dengan anak yang malas belajar. Dari gambaran di atas terlihat jika anak memang mengalami malas belajar, sebenarnya anak mampu untuk mengerjakan tugas yang diberikan oleh gurunya tetapi dia lebih senang tiduran di meja sehingga kemampuan yang dimiliki tidak dimanfaatkan secara maksimal
Beberapa hal yang menyebabkan anak mempunyai sifat malas dalam belajar, diantaranya adalah :
1. Kurangnya motivasi dari dari dalam dan dari luar individu (intrinsik dan ekstrinsik) :
a. Faktor lingkungan alami, sosial dan budaya.
b. Kurikulum, program, guru, sarana dan prasarana.
c. Kondisi fisiologis panca indera.
d. Kondisi psikologis berupa minat, bakat, kecerdasan, motivasi, kemampan kognitif.
2. Konsep diri superioritas (merasa diri sudah cukup bahkan lebih).
3. Munculnya rasa atau memang tidak mampu dan mengalami kesulitan dalam belajar.
4. Pola asuh orang tua yang permisif (serba membolehkan).
5. Status sosial ekonomi orang tua :
a. Pendidikan orang tua, semakin tinggi maka semakin baik pola aspirasinya terhadap pendidikan anak.
b. Kekayaan dan penghasilan, semakin tinggi maka pengaruh terhadap pemberian fasilitas belajar semakin baik.
c. Pekerjaan orang tua, semakin baik dan tinggi nilainya maka berpengaruh terhadap cara pandang masa depan anak.
6. Media mania. Waktu habis untuk menonton TV, PS, baca komik dsb yang tidak terkait dengan kegiatan belajar.
7. Kurangnya keteraturan dalam daily activity (kegiatan harian).

Solusi
1.Pemberian motivasi
2.Membuat daftar daily aktivity sehingga selalu ada kegiatan yang dikerjakan secara terarah.
3. Kegiatan belajar mengajar bervariasi dan menantang yang dilakukan guru /orang tua :
a. Memberi angka (nilai), memberi harapan yang realistis.
b. Memberi hadiah
c. membangun suasana kompetitif
d. Menumbuhkan kesadaran anak tentang arti penting belajar demi masa depannya
e. Mengetahui hasil dari usahanya
f. Pujian dan hukuman
g. Tumbuhkan hasrat dan minat anak
h. Tunjukkan tujuan belajar yang diakui anak
4. Penyediaan lingkungan belajar yang menyenangkan dan kelengkapan sarpras yang memadai
·5.Pemberian bimbingan belajar.
·6Orang tua aktif mendampingi belajar anak ketika di rumah.

Rapuhnya Pilar Demokrasi

Era reformasi telah membuka peluang lahirnya banyak partai politik (parpol)–seperti terlihat sekarang ini–yang diharapkan dapat menjadi kekuatan untuk menegakkan demokrasi yang sehat. Kita mengetahui, parpol memiliki fungsi dan peran sebagai penyerap, penghimpun, dan penyalur aspirasi rakyat sekaligus sebagai alat perjuangan rakyat untuk mencapai kemakmuran dalam keadilan.Parpol merupakan pilar demokrasi yang juga memiliki fungsi sebagai sarana pendidikan politik bagi rakyat, penciptaan iklim yang baik, serta sebagai perekat persatuan dan kesatuan bangsa. Parpol juga berperan sebagai sarana partisipasi politik dan rekrutmen politik.Masalahnya, apakah parpol sudah kuat menopang demokrasi dengan melaksanakan fungsi, peran, dan memperjuangkan kepentingan rakyat? Tampaknya, fakta lebih menunjukkan bahwa sebagian besar parpol belum mampu melaksanakan fungsi dan peran itu. Kebanyakan parpol belum memperjuangkan kepentingan konstituen, tetapi lebih sibuk mengurusi kepentingan pribadi dan kelompok elite partai.Menjelang pemilihan kepala daerah (pilkada), misalnya, muncul banyak slogan dan janji, serta bagi-bagi uang untuk membeli suara. Elite parpol tidak secara konsisten memperjuangkan aspirasi rakyat. Rakyat ternyata hanya dijadikan objek untuk mencapai ambisi pribadi mereka.Pendidikan politik itu penting bagi rakyat, khususnya dalam rangka membangun budaya politik dan demokrasi. Dengan demikian, rakyat memahami hak dan kewajiban sebagai warga negara. Pada akhirnya mereka tidak diombang-ambingkan oleh kehendak segelintir oportunis partai. Namun, itu juga tidak menjadi fokus perhatian dan jarang diprogramkan secara jelas oleh elite parpol. Proses pendidikan politik justru lebih banyak dilakukan oleh media massa sebagai pilar lain demokrasi, tentu melalui penyebaran informasi.Fungsi dan peran parpol sebagai sarana penciptaan iklim yang kondusif serta sebagai perekat persatuan dan kesatuan bangsa juga terabaikan oleh elite parpol. Bahkan, jika terjadi konflik, elite parpol kurang terlihat melakukan upaya mencegah atau menyelesaikannya. Itu karena kebanyakan elite parpol lebih menunjukkan loyalitas sempit kepada partai, dan mengabaikan kepentingan yang lebih besar. Fungsi dan peran parpol kini telah terdistorsi kepentingan sesaat: sekadar untuk mencapai kekuasaan demi keuntungan pribadi dan kelompok.Fungsi dan peran parpol nyaris gagal dilakukan kader-kader parpol, karena–antara lain–rekrutmen kader yang tidak jelas kriterianya. Yang terjadi saat ini adalah praktik money politics dan like and dislike dalam menentukan kader yang akan diperjuangkan menduduki jabatan publik atau pejabat negara. Oleh karena itu, tidak aneh jika di era reformasi ini banyak elite politik dan pejabat negara melakukan pelanggaran pidana, di samping pelanggaran moral dan etika politik.
Sumber : Suara Karya

AM FATWA

Kemana Arah Pendidikan Kita?

Kemajuan bangsa sangat ditentukan oleh mutu pendidikan. Oleh karena itu, masalah pendidikan sangat penting. Namun, diakui atau tidak, selama ini sektor pendidikan masih kurang mendapat perhatian, walaupun dari segi anggaran mengalami peningkatan. Robohnya banyak gedung sekolah, gaji guru yang belum cukup, peralatan sekolah yang belum memadai, merupakan indikator belum diprioritaskannya sektor pendidikan.
Pembukaan UUD 1945 mengamanatkan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Pasal 31 ayat (3) UUD 45 menegaskan perlunya mengusahakan dan menyelenggarakan suatu sistem pendidikan nasional untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia. Hal itu dijabarkan dalam UU No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Namun, tampaknya pelaksanaan pendidikan saat ini hanya menitikberatkan pada pencapaian kecerdasan intelektual yang menjadikan peserta didik pandai dari segi akademik saja. Hal itu dapat dilihat, antara lain, pada pengukuran hasil pendidikan yang hanya menitikberatkan pada ujian nasional dengan materi ujian antara lain matematika, bahasa Indonesia, dan bahasa Inggris. Pendidikan nasional belum diarahkan kepada amanat (perintah) konstitusi dan tujuannya secara utuh serta menyeluruh.
Evaluasi pendidikan seperti yang terjadi sekarang ini lebih mengarah pada tujuan hasil akhir tanpa memperhatikan proses pendidikan. Akibatnya, untuk mencapai tujuan tersebut banyak yang mengambil jalan “menerabas” (jalan pintas). Beberapa kasus kecurangan dalam pelaksanaan ujian nasional yang dilakukan siswa, guru atau pengasuh sekolah dapat dijadikan contoh indikator akibat negatif dari pelaksanaan pencapaian dengan jalan pintas.
Pendidikan yang hanya mementingkan kecakapan intelektual tidak dapat menyiapkan peserta didik menjadi generasi penerus yang berkarakter kuat. Karakter yang kuat antara lain bercirikan memiliki integritas yang tinggi, jujur, disiplin, proaktif, percaya diri, tekun, dan pantang menyerah.
Miskinnya spiritualitas (karena pendidikan hanya menitikberatkan pada aspek kecerdasan) tidak dapat membangkitkan fungsi hati nurani. Miskinnya spiritualitas akan menghasilkan manusia yang rapuh: tidak mengerti siapa dan dari mana dirinya, dan untuk apa hidupnya.
Sebaliknya kemampuan emosional dan spiritual justru akan mengembangkan kemampuan nalar dan intelektual, membangun semangat, optimisme, kreativitas, mandiri, visioner, memahami diri sendiri dan orang lain dengan empati yang didasari oleh moralitas.
Karena itu, paradigma praktik pendidikan yang hanya bertujuan meraih kemampuan akademik harus diubah dengan mengarahkan kepada apa yang diamanatkan oleh UUD 45 dan undang-undang lainnya. Yaitu, terwujudnya masyarakat Indonesia yang religius, bersatu, demokratis, adil, sejahtera, mandiri, baik dan bersih dalam penyelenggaraan negara, seperti disebutkan dalam Ketetapan MPR-RI No VII/MPR/2001 tentang Visi Indonesia 2020.

AM Fatwa wakil MPR RI

Senin, 24 November 2008

instrumen ATP SMP

1. a. Saya melaksanakan ibadah jika disuruh orangtua/guru
b. Saya berdo’a sebelum memulai kegiatan.
c. Saya membaca kitab suci dan mempelajari isisnya.
d. Saya bersyukur kepada Tuhan bila memperoleh nikmat/kesenangan

a. Saya tidak menyontek karena merugikan diri sendiri.
b. Saya tidak menyontek karena takut diketahui guru.
c. Saya belum terbiasa membuang sampah pada tempatnya.
d. Saya berperilaku sopan kepada semua orang.

a. Saya mengetasi kekecawaan seperti halnya oran lain.
b. Sayamenyatakan kekecawaan dengan cara yang tidak menyinggung orang lain.
c. Saya memahamai pentingnya menyayangi orang lain.
d. Saya kecewa melaksanakan tugas sejalan dengan kemauan.

4. a. Saya memikirkan akibat yan akan terjadi sebelum melakukan tindakan.
b. Saya bermusyawarah dalam memutuskan sesuatu.
c. Saya emngerjakan tugas untuk memenuhi tunutan guru.
d. Saya memikirkan berbagai pilihan dan akibatnya dalam membuat keputusan.

5. a. Saya memelihara ketertiban umum sesuai dengan ketentuan.
b. Saya menengok orang sakit karena ingin berbuat kebajikan.
c. Saya memelihara keharmonisan hidup bersama.
d. Saya membersihkan kelas sesuai dengan jadwal piket.

6. a. Saya menghargai teman walaupun berbeda jenis kelamin.
b. Saya lebih suka bermain dengan kelompok yang jenis kelaminnya sama.
c. Saya senan sebagai laki-laki (bagi Laki-laki), atau senang sebagai perempuan (bagi Yang Perempuan).
d. saya mampu bekerjasama denbgan jenis kelamin lain.

7. a. Saya memelihara kebersihan barang milik sendiri.
b. Saya belajar tentang cara-cara hidup hema.
c. Saya menerima dengan senang hati keadaan fisik sendiri.
d. Saya melakukan kegiatan yang disuruh guru/orang tua.

8. a. Saya membuat jadwal kegiatan sesuai kebutuhan sendiri.
b. Saya belajar tentang car-cara hidup hemat.
c. Saya menabung sesuai anjuran orang tua.
d. Saya bekerja sungguh-sungguh seperti yang dikehendaki orang tua.

9. a. Saya merasa ertarik kepada pekerjaan yang dilakukan orang tua.
b. Saya memahami berbagai syarat yang dituntut oleh suatu pekerjaan.
c. Saya yakin bahwa keahlian kerja mendukung kualitas suatu pekerjaan.
d. Saya berkeinginan untuk mengenal jenis – jenis pekerjaan.

10. a. Saya nelaksanakan tugas yang diberikan oleh kelompok.
b. Saya memauhi aturan kelompok jika orang lainpun mematuhinya.
c. Saya membantu teman jika diminta.
d. Saya menghargai pendapat eman dengan tulus-ikhlas.

11. a. Saya meyakini bahwa kesabaran membawa kebahagiaan.
b. Saa merasa berdosa, apabila tidak melaksanakan ibadah.
c. Saya berdo,a jika diperintah orangtua/guru.
d. Saya berupaya membaca kitab suci setiap hari.

12. a. Saya mematuhi tata tertib sekolah sebagaimana orang lain melakukannya.
b. Saya menjawab panggilan orang tua dan segera.
c. Saya menyayangi orang lain secara tulus.
d. Saya mengikuti kebiasaan menghormati orang lain.

13. a. Saya menghadapi tantangan sebagai bagian dari kehidupan.
b. Saya menghadapi tantangan seperti yang disarankan orang lain.
c. Saya memahami perasaan orang lain sebagaimana mereka memahaminya.
d. Saya dapat meredam rasa dendam.

14. a. Saya menganggap musyawarah sebagai cara efektif dalam memutuskan sesuatu
b. Saya mengambil pelajaran dari masalah yang pernah dialami

c. Saya memelihara keseimbangan antara hak dan kewajiban.
d. Saya melakukan tindakan sebagaimana yang disarankan orang yang dipercaya.

15. a. Saya bercita-cita sesuai kemampuan dan kelemahan pribadi.
b. Saya ragu mengemukakan kekeliruan yang terjadi.

c. Saya menengok teman yang sakit seperti teman lain melakukannya.
d. Saya menjalin persahabatan atas dasar saling percaya.

16. a. Saya tampil sesuai dengan jenis kelamin sendiri karena meniru orang lain.
b. Saya tampil sesuai dengan jenis kelamin sendiri darena harus begitu.
c. Saa berpendapat bahwa laki-laki dan permepuan harus saling menghargai.
d. Saya suka meniru tingkah laku ayah (bagi laki-laki) dan meniru ibu (bagi perempuan)

17. a. Saya melakukan kegiatan yang sesuai dengan kemampuan fisik maupun mental
b. Saya menerima bakat dan kemampuan seperi orang lain menerimanya.
c. Saya mengenai keadaan fisik sendiri.
d. Saya menghindarkan diri dari perbuatan yang merusak kesehatan (seperti minuman keras, dan obat-obat terlarang)

18. a Saya mengurangi kebiasaan mentraktir teman-teman.
b. Saya yakin bahwa berhemat merupakan sifat yang terpuji.
c. Saya menggunakan suang sesuai dengan keperluan.
d. Saya mengatur uan jajan seperti yang diperintahkan orang tua.

19. a. Saya bergaul dengan orang yang ahli dalam suatu pekerjaan.
b. Saya mengikuti kegiatan ekstra kurikuler yang mendukung ketrampilan kerja.
c. Saya mempelajari ketrampilan tambahan yan dianjurkan guru.
d. Saya mendiskusikan dengan orang lain tentang kondisi pekerjaan yang diminati

20. a. Saya bekerjasama dengan teman yang memberikan bantuan.
b. Saya memperlakukan teman sesuai dengan sifat dan wataknya.
c. Saya berusaha untuk berperan aktif dalam menyelesaikan tugas-tugas kelompok
d. Saya memelihara kerjasama dengan teman.

21. a. Saya merasa berdosa apabila melanggar larangan Tuhan.
b. Saya memahami arti doa-doa yang biasa dipanjatkan kepada Tuhan.
c. Saya mengetahui manfaat kesabaran.
d. Saya berdoa bila menghadapai kesulitan atau maslah.

22. saya meyakini peningnya menghormati orang lain.
b. Saya meyakini bahwa berbohong itu dapat merugikan orang lain.
c. Saya berdoa bila menghadapi kesulitan atau masalah.
d. Saya merasa senang membantu orang lain yang tengah kesusahan.

23. a. Saya menghormati oran tua sebagaiman orang lain menghormatinya.
b. Saya bersikap tenang dalam menghadapi masalah.

c. Saya menghindari segala sesuatu yang dapat menyebabkan marah.
d. Saya memilih tindakan yang baik apabila mengalami kekecewaan.

24. a. Saya tanggap terhadap penyimpangan sosial di lingkungan sekitar.
b. Saya mengambil keputusan berdaarkan pertimbngan yang dianjurkan orang lain.
c. saya tertarik memperhatikan masalah sosial, politik atau masalah lingkungan.
d. Saya menganalisis suatu persoalan dengan berbagai kemungkinan pemecahan.


25. a. Saya malu jika tidak melaksanakan tugas bersama.
b. Saya menepati janji dengan sesungguh hai.
c. saya memahami kekuatan dan kelemahan pribadi.
d. saya menjalin persahabatan dengan teman sebagaiman layaknya orang lain.

26. a. Saya senang melakukan pekerjaan yang sesuai dengan jenis kelamin.
b. Saya menyenangi pakaian yang sesuai dengan jenis kelamin.
c. Saya melakukan kegiuatan sesuai dengan jenis kielamin sendiri.
d. Saya melakukan peran sesuai jenis kelamin dalam pergaulan di masyarakat.

27. a. Saya mengembangkan sifat pribadi sesuai harapan orang lain.
b. Saya memahami bahwa cita-cita yang ingin dicapai sesuai dengan kemampuan.
c. Saya merasa terbebani jika melakukan kegiatan di luar kemampuan.
d. Saya merasa bangga terhadap bentuk fisik sendiri.

28. a. Saya menyisihkan uang jajan untuk di tabung.
b. Saya membuat jadwal sesuai saran guru.
c. Saya belajar mengurangi permintaan uang kepada orang tua.
d. Saya senang bekerja dalam bidang apapun asal sesuai dengan kemampuan.

29. a. Saya belajar bahasa inggris, komputer atau lainnya sebagai bekal tambahan di luar bidang studi.
b. Saya merencanakan karir dengan cermat untuk mencapai tujuan karir yang jelas.
c. Saya merencanakan karir di masa datang sejak sekjarang.
d. Saya merasa puas melakukan pekerjaan untuk memperoleh hadiah.

30. a. Saya membiasakan diri untuk dapat bergaul dengan siapapun.
b. Saya mematuhi aturan bermain yang telah disepakati kelompok.
c. saya menghargai pendapat teman yang sekelompok saja.
d. Saya memberikan dukungan moril kepada sekelompok saja.


31. a. Saya aktif dalam kegiatan keagamaan di sekolah.
b. Saya be;lajar agama karena teman atau keluarga juga mempelajarinya.
c. Saya mengikuti orang lain berbuat kebaikan.
d. Saya menilai sehari-hari yang sesuai dan yang bertentangan dengan ajaran agama.

32. a. Saya berusaha sopan di depan orang banyak.
b. Saya senangt bila dapat menghindarkan diri dari perbuatan yang melanggar
aturan.
c. Saya berusaha menjadi tamu yang baik.
d. Saya membina hubungan baik dengan orang yang pernah menolong.

33. a. Saya memperhitungkan akibat sebelum melakukansuatu tindakan.
b. Saya merasa populer karena berani bertanya kepada guru.
c. Saya dapat mengatasi kekecawaan setelah menerima nasihat orang lain.
d. Saya tidak tergesa-gesa dalam segala kegiatan.

34. a. Saya sulit menghadapi sesuatu yang tidak biasa.
b. Saya mampu mencari alternatif pemecahan masalah yang paling tepat.
c. Saya mengambil keputusan berdasarkan data yang memadai.
d. Saya mengetahui perbuatan yang baik dan buruk berdasarkan peraturan.

35. a. Saya melaksanakan tugas dengan sungguh-sungguh.
b. Saya membantu orang lain yang meminta pertolongan.
c. Saya merasa puas jika orang lain mengakui hasil kerja yang dicapai.
d. Saya membuat prioritas dalam memilih tindakan.

36. a. Saya dapat membedakan sifat laki-laki dengan sifat perempuan.
b. Senang dan bangga dengan jenis kelamin sendiri.
c. Saya memberlakukan laki-laki dan perempuan sederajat.
d. Saya suka model pakaian sesuai dengan jenis kelamin sendiri.

37. a. Saya memperhitungkan kemampuan diri dalam melakukan kegiatan sehari-hari.
b. Saya kecewa karena tidakmampu melakukan tugas yang diterima.
c. Saya mengusahakan prestasi belajar seperti dikehendaki orang tua.
d. Saya memahami kecerdasan bakat dan keterampilan sendiri.

38. a. Saya menabung apabila mempunyai uang lebih.
b. Saya tidakbegitu mengharapkan pemberian dari orang tua.
c. Saya mengendalikan pengeluaran sehari-hari agar dapat menyisihkan uang untuk ditabung.
d. Saya mencoba memahami cara-cara orang mencari uang.

39. a. Saya memikirkan baik-buruk dan suka-duka memasuki pekerjaan tertentu.
b. Saya mengikuti kegiatan ekstra kurikuler seperti orang lain.
c. Saya memilih jenis pekerjaan tertentu bersama dengan teman yang sepaham.
d. Saya memperhitungkan kemampuan diri dengan ragam tuntutan pekerjaan.

40. a. Saya bergaul dengan teman yang mempunyai sifat-sifat pribadi yang sama.
b. Saya turut memikirkan kesulitan orang lain danberusaha memberi bantuan.
c. Saya bekerjasama dengan teman untuk mencapai tujuan bersama.
d. Saya menerima tugas yang diberikan kelompok tertentu.

41. a. Saya melaksanakan ibadah jika disuruh orang tua/guru.
b. Saya berdoa sebelum memulai kegiatan.
c. Saya membaca kitab suci dan mempelajari isinya.
d. Saya bersyukur kepada Tuhan Bila mnewmperoleh nikmat/kesenangan.

42. a. Saya mematuhi tata tertib sekolah sebagaimana orang lain melakukannya.
b. Saya menjawab panggilan orangtua dan segera menemuinya
c. Saya menyayangi orang lain secara tulus.
d. Saya mengikuti kebiasaan menghormati orang lain.

43. a. Saya menghormati orang tua sebagaimana orang lain menghormatinya.
b. Saya bersikap tenang dalam emnghadapi masalah.
c. Saya menghindari segala sesuatu yang dapat menyebabkan marah.
d. Saya memilih tindakan yang baik apabila mengalami kekecewaan.

44. a. Saya sulit menghadapi sesuatu yang tidak biasa.
b. Saya mampu mencari alternatif pemecahan yang paling tepat.
c. Saya mengambil keputusan berdasarkan data yang memadai.
d. Saya mengetahui perbuiatan yang baik dan buruk berdasarkan peraturan.

45. a. Saya memelihara ketertiban umum sesuai dengan ketentuan.
b. Saya menengok orang sakit karena ingin berbuat kabajikan.
c. Saya memelihara keharmonisan hidup bersama.
d. Saya membersihkan kelas sesuai dengan jadwal piket.

46. a. Saya tampil sesuai dengan jenis kelamin sendiri karena meniru orang lain.
b. Saya tanpil sesuai dengan jenis kelamin sendiri kerena memang harus begitu.
c. Saya berpendapat bahwa laki-laki dan perempuan harus saling menghargai.
d. Saya suka meniru tingkah laku ayah (bagi Laki-laki) dan meniru ibu (bagi Perempuan)

47. a. Saya mengembangkan sifat pribadi sesusi harapan orang lain.
b. Saya memahami bahwa cita-cita yang inginh dicapai sesuai dengan kemampuan.
c. Saya merasa terbebani jika melakukan kegiatan di lauar kemampuan.
d. Saya merasa bangga terhadap bentuk fisik sendiri.

48. a. Saya menabung apabila mempunyai uang labih.
b. Saya tidak begitu mengharapkan pemberian dari orang tua.
c. Saya megendalikan pengeluaran sehari-hari agar dapat menyisihkan uang auntuk ditabung.
d. Saya mencoba memahami cara-cara orang mencari uang.

49. a. Saya merasa tertarik kepada pekerjaan yang dilakukan orang tua.
b. Saya memahami berbagai syarat yang dituntut oleh suatu pekerjaan.
c. Saya yakin bahwa keahlian kerja mendukung kualitas suatu pekerjaan.
d. Saya berkeinginan untuk mengenal jenis-jenis pekerjaan.

50. a. Saya bekerjasama dengan teman yang memberikan bantuan.
b. Saya memperlakukan teman sesuai dengan sifat dan wataknya.
c. Saya berusaha untuk berperan aktif dalam menyelesaikan tugas-tugas kelompok.
d. saya memelihara kerjasama dengan teman.